Ramadhan merupakan bulan penting umat
Islam yang memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan
bulan lainnya. Bulan yang ‘dianak emas’-kan oleh Allah dengan berbagai kejadian
mulia yang Ia hadirkan di dalamnya, bulan yang bergelimang pahala dan
penghapusan dosa, serta merupakan bulan yang dispesialkan oleh Nabi Muhammad dengan
mendapat predikat bulan terbaik yang bahkan kebaikannya lebih dari seribu bulan.
Tidak berlebihan dan memang pantas
rasanya jika semua umat muslim dari berbagai penjuru dunia menempatkan bulan
ramadhan sebagai bulan yang sangat dinantikan kehadirannya. Karena jika kita melihat sisi keutamaan bulan
ramadhan yang merupakan bulan dimana diturunkannya Al-qur’an pertama kali, juga
merupakan momentum kebangkitan bagi umat muslim dimana Nabi Muhammad mendapat
pencerahan pertama di gua hiro akan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di
muka bumi. Hal ini memaksa dirinya untuk berkontemplasi terhadap realitas
masyarakat Arab jahiliyah yang jauh dari perikehidupan manusia beradab.
Sebuah kontemplasi religius yang
diiringi implementasi kritis seorang yang tercerahkan pada Ramadhan yaitu Muhammad
ini akhirnya berjangka panjang pada terciptanya tatanan masyarakat arab yang
egaliter dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Sebuah pengorbanan dan aksi
sosial Islam yang tidak hanya mensalehkan pribadi belaka, namun juga menularkan
kesalehannya dalam bingkai masyarakat luas yang meskipun pada prosesnya harus
bermandikan peluh dan darah.
Sangat jauh rasanya jika kita coba
sejajarkan dengan kondisi umat kebanyakan masa kini, dimana muncul paradigma
akan bulan ramadhan yang sarat akan penebusan dosa, juga ramadhan hanya
dijadikan sebagai bulan penuh ritual keagamaan Tuhan belaka. Paradigma ini berpengaruh
pada berubahnya realitas sosial secara dramatis dan radikal yang mulanya
hanya berkutat dengan duniawi saja menjadi aktivitas yang sebisa mungkin
semuanya dibalut dengan nuansa dan bingkai religiusitas. Sehingga setiap kegiatan yang dilakukan di bulan
ramadhan sering kali diorientasikan pada penebusan segala kesalahan dan
kekacauan yang telah diperbuat di luar bulan ramadhan.
Pada dasarnya, jika kita memandang
ramadhan dengan paradigma rasionalitas yang dibentengi dengan pencerahan
spiritual, akan didapati bahwa substansi dan esensi dari ramadhan tidak bisa
dipandang sesederhana itu, melainkan sebuah momentum kebangkitan setiap Insan
untuk menempa diri selama kurang lebih 29 hari yang selayaknya diisi dengan
kegiatan peningkatan kesolehan pribadi dengan di atas rasa lapar dan dahaga.
Penggemblengan harusnya ini tidak
berhenti pada bulan puasa saja, melainkan ramadhan sekedar masa dimana
penempaan bertujuan guna memunculkan dan membangunkan jiwa-jiwa empati serta kepekaan
terhadap realitas masyarakat yang secara fitrah sebenarnya telah dimiliki oleh
setiap orang namun masih tertidur dan hanya terbangun ketika dihadapkan pada
momen seperti ramadhan ini. Ketika hal ini bisa dicapai, maka kesalehan pribadi
akan bersanding indah dengan kesalehan sosial yang nantinya akan didapati predikat
orang-orang yang bertakwa sesuai dengan hasil akhir sesungguhnya yang termaktub
dalam Al-Qur’an 2:183.
Pada momentum ramadhan kali ini, sudah
waktunya keberhasilan Muhammad itu di rekonstruksi pada setiap manusia
khususnnya yang mengaku dirinya sabagai umat nabi Muhammad. Revitalisasi
sejarah yang semestinya dilakukan untuk menghindari kesalehan pribadi sesaat
yang banyak melanda diri individu-individu apatis terhadap kesalehan sosialnya.
Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara bulan ramadhan dengan bulan lainnya
dan terbentuknya alumni-alumni ramadhan yang pasca ramadhan berlalu benar-benar
mengantongi substansi dan esensi dari bulan ramadhan dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari meskipun bukan di bulan ramadhan.
sepakat... :-)
ReplyDelete..
hmmm... maaaf,,, ad ya alumni-alumni ramadhan?? :-)
Sejatinya manusia itu terlalu mengedepankan hawa nafsunya ketika beramal, sehingga tatkala Ramadhan usai mereka akan kembali kepada kejahiliyahan.
..
bagaimana cara menyadarkan mereka adalah suatu upaya besar untuk menuju indahnya Islam..
...
nah,,, menurut antum, bagaimana cara menyadarkan mereka agar kembali kepada jalan yang dirahmati-Nya??