Thursday, November 15, 2012

Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial




Ramadhan merupakan bulan penting umat Islam yang memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bulan lainnya. Bulan yang ‘dianak emas’-kan oleh Allah dengan berbagai kejadian mulia yang Ia hadirkan di dalamnya, bulan yang bergelimang pahala dan penghapusan dosa, serta merupakan bulan yang dispesialkan oleh Nabi Muhammad dengan mendapat predikat bulan terbaik yang bahkan kebaikannya lebih dari seribu bulan.
Tidak berlebihan dan memang pantas rasanya jika semua umat muslim dari berbagai penjuru dunia menempatkan bulan ramadhan sebagai bulan yang sangat dinantikan kehadirannya. Karena  jika kita melihat sisi keutamaan bulan ramadhan yang merupakan bulan dimana diturunkannya Al-qur’an pertama kali, juga merupakan momentum kebangkitan bagi umat muslim dimana Nabi Muhammad mendapat pencerahan pertama di gua hiro akan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Hal ini memaksa dirinya untuk berkontemplasi terhadap realitas masyarakat Arab jahiliyah yang jauh dari perikehidupan manusia beradab.

Sebuah kontemplasi religius yang diiringi implementasi kritis seorang yang tercerahkan pada Ramadhan yaitu Muhammad ini akhirnya berjangka panjang pada terciptanya tatanan masyarakat arab yang egaliter dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Sebuah pengorbanan dan aksi sosial Islam yang tidak hanya mensalehkan pribadi belaka, namun juga menularkan kesalehannya dalam bingkai masyarakat luas yang meskipun pada prosesnya harus bermandikan peluh dan darah.
Sangat jauh rasanya jika kita coba sejajarkan dengan kondisi umat kebanyakan masa kini, dimana muncul paradigma akan bulan ramadhan yang sarat akan penebusan dosa, juga ramadhan hanya dijadikan sebagai bulan penuh ritual keagamaan Tuhan belaka. Paradigma ini berpengaruh pada berubahnya realitas sosial secara dramatis dan radikal  yang mulanya  hanya berkutat dengan duniawi saja menjadi aktivitas yang sebisa mungkin semuanya dibalut dengan nuansa dan bingkai religiusitas. Sehingga  setiap kegiatan yang dilakukan di bulan ramadhan sering kali diorientasikan pada penebusan segala kesalahan dan kekacauan yang telah diperbuat di luar bulan ramadhan.
Pada dasarnya, jika kita memandang ramadhan dengan paradigma rasionalitas yang dibentengi dengan pencerahan spiritual, akan didapati bahwa substansi dan esensi dari ramadhan tidak bisa dipandang sesederhana itu, melainkan sebuah momentum kebangkitan setiap Insan untuk menempa diri selama kurang lebih 29 hari yang selayaknya diisi dengan kegiatan peningkatan kesolehan pribadi dengan di atas rasa lapar dan dahaga.
Penggemblengan harusnya ini tidak berhenti pada bulan puasa saja, melainkan ramadhan sekedar masa dimana penempaan bertujuan guna memunculkan dan membangunkan jiwa-jiwa empati serta kepekaan terhadap realitas masyarakat yang secara fitrah sebenarnya telah dimiliki oleh setiap orang namun masih tertidur dan hanya terbangun ketika dihadapkan pada momen seperti ramadhan ini. Ketika hal ini bisa dicapai, maka kesalehan pribadi akan bersanding indah dengan kesalehan sosial yang nantinya akan didapati predikat orang-orang yang bertakwa sesuai dengan hasil akhir sesungguhnya yang termaktub dalam Al-Qur’an 2:183.
Pada momentum ramadhan kali ini, sudah waktunya keberhasilan Muhammad itu di rekonstruksi pada setiap manusia khususnnya yang mengaku dirinya sabagai umat nabi Muhammad. Revitalisasi sejarah yang semestinya dilakukan untuk menghindari kesalehan pribadi sesaat yang banyak melanda diri individu-individu apatis terhadap kesalehan sosialnya. Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara bulan ramadhan dengan bulan lainnya dan terbentuknya alumni-alumni ramadhan yang pasca ramadhan berlalu benar-benar mengantongi substansi dan esensi dari bulan ramadhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari meskipun bukan di bulan ramadhan.

1 comment:

  1. sepakat... :-)
    ..
    hmmm... maaaf,,, ad ya alumni-alumni ramadhan?? :-)
    Sejatinya manusia itu terlalu mengedepankan hawa nafsunya ketika beramal, sehingga tatkala Ramadhan usai mereka akan kembali kepada kejahiliyahan.
    ..
    bagaimana cara menyadarkan mereka adalah suatu upaya besar untuk menuju indahnya Islam..
    ...
    nah,,, menurut antum, bagaimana cara menyadarkan mereka agar kembali kepada jalan yang dirahmati-Nya??

    ReplyDelete

yuhu~