Aku
Pernah mendengar namamu begitu menggelitik telingan ini
semasa aku berseragam. Mencoba membayangkan pesona dari sepercik cerita-cerita
indah punggawamu. Ya, ketika itu kita belum saling mengenal satu sama lain.
Namun pernah terbersit niat untuk ingin ditemani olehmu selama aku menjalani
hiruk pikuk miniatur negara ini.
Kamu
Rumah pertama yang kujadikan tempat pelepas lelah setelah
interaksi dengan banyak orang asing. Lumbung yang telah menyuapiku dengan
berbagai macam makanan baik maupun buruk. Ya, meskipun pada dasarnya rumahku di
sini bukan hanya kamu,hhi...
Aku
Pernah bercerita tentang kegagahanmu. Mulai ketika kamu
lahir, belajar merangkak, berjalan, berlari, hingga bisa berteriak lantang
Aku
Pernah melihatmu bersama teman-teman yang lain berkerumun
memenuhi aspal, berdiri gagah menantang matahari dan melangkah bak serdadu.
Kamu
Diusia 15mu tahun lalu, di bawah paparan rembulan, sempat
aku merenung sembari menatap panggung deklarasi dimana namamu pertama kali
disebut dan dimaktubkan dalam secarik kertas. Mencoba berkhayal tentang riuhnya
gema takbir menyambut kelahiranmu, membayangkan semangat juang yang memenuhi
setiap inci lantai ruang itu.
Aku
Teringat ketika aku bermandi peluh menantang himpitan waktu.
Bersama teman-temanku dengan sangat gagah menjunjungmu setinggi mungkin. Tidak
ingin kau terhimpit ditengah-tengah panji pesaingmu, dengan maksud menunjukkan
bahwa kamu masih hidup.
Aku
Tapi itu dulu. Dulu ketika kita masih bersanding mesra.
Berjalan beriring bersama, mencoba memutihkan tempat yang penuh warna. Ya, masa
dimana semangatku dan semangatmu bisa seiring sejalan.
Kamu
Kini kau memasuki portal ke 16. Usia emas yang harusnya
menjadi masa dimana namamu menjadi buah bibir setiap orang dan panjimu
ditinggikan. Masa dimana punggawamu semakin jatuh hati terhadapmu. Masa dimana
tumbuh keinginan khalayak untuk membuat sejarah bersamamu. Masa dimana
langkahmu makin membumi, dan masa dimana tubuhmu berdiri tegap. Masa-masa
keniscayaan.
Kamu
Sosokmu kini makin asing dimataku. Sulit membedakan
prajuritmu dengan pasukan yang lain. Meraba-raba ketika harus melihat panjimu,
apakah masih seperti dulu atau telah tertumpah warna lain. Punggawamu juga
lebih sering kulihat bermain dengan orang tua, berjenggot dan berbendera.
Mereka terlihat lebih bersemangat walaupun
berdiri tegak lurus dengan matahari, berkumpul penuh sesak di sebuah stadion,
dan mengangkat bendera yang jauh lebih besar dari milikmu. Yang tidak kusuka
yaitu ketika tak jarang namamu disandingkan dengan nama mereka.
Ya, entah aku terlalu yakin atau ekspektasiku terlalu tinggi
perihal idealismu, idealis yang makin lama kulihat makin luntur seiring
munculnya warna dan suara para orang tua itu. Hilang sudah keajaiban kata
‘ta’limat’ terhadap prajuritmu, tergantikan dengan kepatuhan dan semangat terhadap
instruksi para ‘tetua’.
Aku
Sempat terbersit seonggok pertanyaan, apakah umurmu lebih
tua atau masih lebih muda dari yang sebenarnya? Bagaimana kabarmu sekarang?
Banyak orang menanyakan keadaanmu, menanyakan punggawamu yang senantiasa
bertilawah ketika berkumpul, menanyakan panjimu yang senantiasa dijunjung
dengan gema takbir. Itu semua pertanyaan yang susah untuk aku jawab, dan bahkan
terkadang kutimpali dengan pertanyaan nakalku, apakah kamu masih mampu membuat
jejak semasa dulu? Ataukah hanya tenggelam dalam senja sejarah yang indah?
Kamu
Mawarmu tak semerah dulu, tanganmu tak sekekar dulu, dan
warna-warna itu seakan memudar. Tenanglah, bagaiamanapun keadaanmu, masih
tersimpan sebongkah keyakinanku bahwa kau akan tetap ada. Ya, ada meskipun
dengan nafas yang tersengal, tubuh yang membungkuk dan langkah yang tertatih.
Kamu
Hei, jangan pernah tanya kemana perginya aku. Tanyalah
kepada punggawamu yang lain atau bisa juga kau bertanya pada dirimu sendiri.
Kenapa mereka lebih bisa tersenyum bersama orang tua itu, bisa lebih erat
mengelilingi bendera itu dan lebih bangga memakai baju itu? Daripada bersamamu?
Aku
Rindu pada masa dimana kita mewarnai aspal-aspal itu, takbir
bersama, duduk bersama, bercengkrama mengenai nasibmu, aku dan tempat yang kita
pijaki ini. Tersenyum di dalam proyeksi manis kita tentang masa mendatang. Melingkar
di sebuah tempat sederhana tanpa ada pembicaraan lain kecuali kita, ya kita.
Tanpa mereka, tanpa dia, tanpa warna lain, dan tanpa orang tua.
Masa dimana kata faham, tsiqoh dan ta’limat menjadi kekuatan
kita bersama, dan masa dimana aku bisa membedakan antara punggawamu dan
prajurit orang tua tanpa ada interfensi serta kepentingan yang sering
digabungkan dengan urusan para tetua itu.
Aku
Ya, meskpiun tak sehebat teman-temanku dalam mengenalmu dan
mencintaimu, meskipun tidak selama mereka berinteraksi bersamamu, tapi yakinlah
bahwa aku masih paham bagaimana cara memperlakukanmu sebagaimana mestinya. Aku
paham bagaimana cara mengangkat panjimu, aku paham bagaimana cara bersenda
gurau bersamamu, dan aku masih sangat paham bagaimana bertakbir lantang
bersamamu.
Untukmu yang telah menemaniku :3
No comments:
Post a Comment
yuhu~