Friday, July 18, 2014

Hakikat Manusia

 
“...Cemburu pada samudra yang menampung segala
Cemburu pada sang ombak yang selalu bergerak...” – Iwan Fals
 
Pernahkah kita terbersit sebuah gambaran bahwa kita tak lebih dari sekedar hewan? Ya, hewan yang hanya menumpang untuk beranak pinak, makan, kencing dan berak. Atau tak ubahnya seonggok makhluk bodoh yang dengan sekenanya mengikuti instruksi majikannya. Ketika digiring maka akan dengan senang hati menggerakkan setiap sendi untuk mematuhinya, bahkan seperti peliharaan yang menurut dengan manisnya tanpa banyak tanya dan tidak pernah berusaha untuk keluar ketika hidup dalam kurungan?

Sebuah kondisi yang secara tidak sadar pernah atau bahkan sering tersubstitusikan ke dalam kehidupan manusia. Manusia yang memiliki akal dan manusia dengan huruf M besar. Manusia yang hanya bisa memakai dan manusia yang hanya bisa merusak. Manusia yang hanya numpang makan, tidur dan berak.
Sedikit gambaran akan hal itu. Tai. Ya, boleh rasanya kita bandingkan manusia dengan hewan dari sisi terendah ini. Pernahkah kita berfikir bahwa nilai ekonomis kotoran hewan jauh lebih tinggi daripada kotoran manusia? Entah diperdagangkan dalam bentuk kotoran mentah maupun yang sudah menjadi suatu olahan, dijadikan pupuk atau bahan minuman. Bahkan untuk urusan kotoran pun hewan masih bisa sedikit lebih ‘unggul’, lebih bermanfaat dan bisa dikatakan lebih berdaya jual. Ya, hal sesederhana Tai.
Lalu apa yang membedakan kita dengan ‘mereka’? Akan salah besar jika kita beranggapan bahwa letak perbedaannya ada pada akal, karena pada dasarnya hewan pun mempunyai ‘akal’ yang disebut insting hewani. Namun beda lagi jika kita mengatakan bahwa perbedaan itu berada pada ilmu yang bersimbiosis dengan akal kita.
Bukankah pada dasarnya manusia adalah maha karya dari sang pencipta? Ciptaan yang diturunkan di muka bumi untuk jadi pembeda, pemimpin, dan penyempurna. Makhluk berakal yang mempunyai berjuta kemampuan. Makhluk yang sudah seharusnya bisa mengembangkan potensi yang telah dititipkan olehNya, mengolah yang telah dipinjamkanNya dan menunduk atas semua kehinaannya.
 
‘...Orang bilang tanah kita tanah surga...’ – koes plus
Syair yang sekarang hanya akan menenggelamkan indonesia dalam senja sejarah yang indah. Seolah dongeng masa lampau yang tak kunjung henti diceritakan, membelai angan-angan mereka dan meninabobokkan perasaan akan negeri yang kaya ini. Meski nantinya mereka akan mengerti bahwa serpihan-serpihan surga yang pernah mereka tau melalui bualan itu memang ada, namun sekarang hanya tinggal kenangan. Ya, kenangan yang hilang oleh mereka sendiri yang sedikit menyandingkan antara akal dan ilmu dalam satu kemesraan yang romantis.
                Sebuah kemesraan yang sudah barang tentu akan membawa kemaslahatan dalam hidup dan kehidupan. Kemesraan yang akan membuat semuanya nampak indah, nampak asli dan nampak bernilai. Kemesraan yang akan membuat syair itu akan tetap ada sampai kapanpun. Ya, kemesraan antara ilmu dan akal.
                Bukankah sudah dimaktubkan dalam kitabNya bahwasanya manusia yang berilmu akan dinaikkan beberapa derajat olehNya? Tidakkah sudah jelas kata kuncinya, barang siapa ingin bahagia di dunia haruslah dengan ilmu, barangsiapa ingin bahagia di akhirat haruslah dengan ilmu dan siapa yang ingin bahagia keduanya maka dengan ilmu pula?
                Tuntutan besar kiranya bagi mereka yang masih merasa manusia, maha karya spesial, master piece dan yang masih merasa makhluk dengan huruf M besar untuk terus berfikir memberdayakan akal yang telah dipinjamkan. Terus mengeruk hamparan qouniyah dan qouliyah yang telah disediakan melebihi apa yang di langit dan di bumi.
 
“... Dan langit, bagaimana ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?
Dan bumi bagaimana dihamparkan?...” – Al-Ghasyiyah;18-20
Tidakkah kita perhatikan bagaimana sebuah penciptaan dilakukan, dengan langit yang menjulang tanpa tiang, kokohnya gunung yang berdiri menantang, daratan yang nyaman dipijaki, dan luasnya laut sejauh mata memandang? Ya, kasta nyata yang membedakan antara pencipta dan karya cipta. Sudah semestinya seorang manusia membuang bahkan menghilangkan jauh-jauh rasa congkaknya ketika berjalan di muka bumi ini. Tanah yang disediakan secara cuma-cuma oleh sang pencipta untuk seluruh makhluknya. Hal tersebut sudah sepantasnya bisa meningkatkan rasa syukur dan kerendahan kita terhadap hidup dan kehidupan terutama sang pembuat skenario kehidupan.
                Sungguh sebuah rasa malu yang teramat sangat ketika sama rasanya dengan atau tanpa kehadiran seonggok daging ini di muka bumi. Teramat malu bahkan jika disandingkan dengan alam yang selalu bertasbih, selalu tunduk dan patuh terhadap penciptanya dengan segala yang mereka miliki. Malu hingga menembus lorong-lorong kecemburuan. Ya, cemburu akan mereka yang tak bernyawa tapi mampu menghidupi, cemburu akan mereka yang tak berakal namun mampu mengajari banyak hal, cemburu akan mereka yang tak berdetak namun terus dan terus bergerak tanpa lelah mengejawantahkan kuasaNya. Seolah mereka lebih dari sekedar paham akan makna hadirnya mereka di muka bumi
 
Nūn, walqalami wama yasturūn

1 comment:

yuhu~