“...Cemburu pada samudra yang
menampung segala
Cemburu pada sang ombak yang
selalu bergerak...” – Iwan Fals
Pernahkah kita terbersit sebuah gambaran bahwa kita
tak lebih dari sekedar hewan? Ya, hewan yang hanya menumpang untuk beranak
pinak, makan, kencing dan berak. Atau tak ubahnya seonggok makhluk bodoh yang
dengan sekenanya mengikuti instruksi majikannya. Ketika digiring maka akan
dengan senang hati menggerakkan setiap sendi untuk mematuhinya, bahkan seperti
peliharaan yang menurut dengan manisnya tanpa banyak tanya dan tidak pernah
berusaha untuk keluar ketika hidup dalam kurungan?
Sebuah kondisi yang secara tidak sadar pernah atau
bahkan sering tersubstitusikan ke dalam kehidupan manusia. Manusia yang
memiliki akal dan manusia dengan huruf M besar. Manusia yang hanya bisa memakai
dan manusia yang hanya bisa merusak. Manusia yang hanya numpang makan, tidur
dan berak.
Sedikit gambaran akan hal itu. Tai. Ya, boleh
rasanya kita bandingkan manusia dengan hewan dari sisi terendah ini. Pernahkah
kita berfikir bahwa nilai ekonomis kotoran hewan jauh lebih tinggi daripada
kotoran manusia? Entah diperdagangkan dalam bentuk kotoran mentah maupun yang
sudah menjadi suatu olahan, dijadikan pupuk atau bahan minuman. Bahkan untuk
urusan kotoran pun hewan masih bisa sedikit lebih ‘unggul’, lebih bermanfaat
dan bisa dikatakan lebih berdaya jual. Ya, hal sesederhana Tai.
Lalu apa yang membedakan kita dengan ‘mereka’? Akan salah
besar jika kita beranggapan bahwa letak perbedaannya ada pada akal, karena pada
dasarnya hewan pun mempunyai ‘akal’ yang disebut insting hewani. Namun beda
lagi jika kita mengatakan bahwa perbedaan itu berada pada ilmu yang bersimbiosis
dengan akal kita.
Bukankah pada dasarnya manusia adalah maha karya
dari sang pencipta? Ciptaan yang diturunkan di muka bumi untuk jadi pembeda,
pemimpin, dan penyempurna. Makhluk berakal yang mempunyai berjuta kemampuan.
Makhluk yang sudah seharusnya bisa mengembangkan potensi yang telah dititipkan
olehNya, mengolah yang telah dipinjamkanNya dan menunduk atas semua
kehinaannya.
‘...Orang bilang tanah kita tanah
surga...’ – koes plus
Syair yang sekarang hanya akan menenggelamkan
indonesia dalam senja sejarah yang indah. Seolah dongeng masa lampau yang tak
kunjung henti diceritakan, membelai angan-angan mereka dan meninabobokkan
perasaan akan negeri yang kaya ini. Meski nantinya mereka akan mengerti bahwa
serpihan-serpihan surga yang pernah mereka tau melalui bualan itu memang ada,
namun sekarang hanya tinggal kenangan. Ya, kenangan yang hilang oleh mereka
sendiri yang sedikit menyandingkan antara akal dan ilmu dalam satu kemesraan
yang romantis.
Sebuah kemesraan yang
sudah barang tentu akan membawa kemaslahatan dalam hidup dan kehidupan.
Kemesraan yang akan membuat semuanya nampak indah, nampak asli dan nampak
bernilai. Kemesraan yang akan membuat syair itu akan tetap ada sampai kapanpun.
Ya, kemesraan antara ilmu dan akal.
Bukankah sudah
dimaktubkan dalam kitabNya bahwasanya manusia yang berilmu akan dinaikkan
beberapa derajat olehNya? Tidakkah sudah jelas kata kuncinya, barang siapa
ingin bahagia di dunia haruslah dengan ilmu, barangsiapa ingin bahagia di
akhirat haruslah dengan ilmu dan siapa yang ingin bahagia keduanya maka dengan
ilmu pula?
Tuntutan besar
kiranya bagi mereka yang masih merasa manusia, maha karya spesial, master piece
dan yang masih merasa makhluk dengan huruf M besar untuk terus berfikir
memberdayakan akal yang telah dipinjamkan. Terus mengeruk hamparan qouniyah dan
qouliyah yang telah disediakan melebihi apa yang di langit dan di bumi.
“... Dan langit, bagaimana
ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana
ditegakkan?
Dan bumi bagaimana
dihamparkan?...” – Al-Ghasyiyah;18-20
Tidakkah kita perhatikan bagaimana sebuah penciptaan
dilakukan, dengan langit yang menjulang tanpa tiang, kokohnya gunung yang
berdiri menantang, daratan yang nyaman dipijaki, dan luasnya laut sejauh mata
memandang? Ya, kasta nyata yang membedakan antara pencipta dan karya cipta.
Sudah semestinya seorang manusia membuang bahkan menghilangkan jauh-jauh rasa
congkaknya ketika berjalan di muka bumi ini. Tanah yang disediakan secara
cuma-cuma oleh sang pencipta untuk seluruh makhluknya. Hal tersebut sudah
sepantasnya bisa meningkatkan rasa syukur dan kerendahan kita terhadap hidup
dan kehidupan terutama sang pembuat skenario kehidupan.
Sungguh sebuah
rasa malu yang teramat sangat ketika sama rasanya dengan atau tanpa kehadiran
seonggok daging ini di muka bumi. Teramat malu bahkan jika disandingkan dengan
alam yang selalu bertasbih, selalu tunduk dan patuh terhadap penciptanya dengan
segala yang mereka miliki. Malu hingga menembus lorong-lorong kecemburuan. Ya,
cemburu akan mereka yang tak bernyawa tapi mampu menghidupi, cemburu akan
mereka yang tak berakal namun mampu mengajari banyak hal, cemburu akan mereka
yang tak berdetak namun terus dan terus bergerak tanpa lelah mengejawantahkan
kuasaNya. Seolah mereka lebih dari sekedar paham akan makna hadirnya mereka di
muka bumi
Nūn, walqalami wama yasturūn
Salam kenal...
ReplyDelete