Jangankan penciptaan manusia, allah mematangkan buah pun
bertahap.
Kawan, taukah bahwa kerja hormon itu bergantian?
Ya, Allah mengalirkan hormon sitokinin terlebih dahulu ke
buah muda untuk pertumbuhan, setelah cukup terbentuk buah muda, lalu Allah
menggantikan peran sitokinin ini dengan akumulasi gas etilen di buah tua untuk
menginduksi pemasakan bahkan bisa sampai kelewat masak.
Hasil dari kerja bertahap ini lah yang memiliki rasa manis
dan lebih bernilai ekonomis. Ya, lebih manis dan lebih mahal. Sekali lagi,
lebih manis dan lebih mahal.
Bandingkan dengan buah-buah karbitan yang sengaja dicabut
dan ‘dipaksa’ masak sebelum waktunya. Hasilnya? Ah, meskipun manis dan walaupun
punya harga, tetap saja tidak bisa menandingi kualitas buah yang masak pohon.
Entah bagi beberapa orang mungkin bisa mendulang keuntungan
dengan mengisi kekosongan keranjang buah yang harusnya terisi dengan buah-buah
segar yang memang pantas diletakkan di tempat istimewa itu atau memang mereka
tidak sabar untuk menunggu buah-buah belia untuk masak walaupun secara visual
sudah waktunya untuk dikonsumsi.
Ah, semua itu keniscayaan yang berujung pada meluapnya stok
buah karbitan yang hanya merusak keindahan keranjang istimewa itu, atau mungkin
semua hanya pilihan pahit ketika buah masak pohon itu tak lagi tersedia dengan
stok yang dibutuhkan
Entahlah.....
No comments:
Post a Comment
yuhu~