Thursday, June 18, 2015

Puncak

“... Dan langit, bagaimana ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?
Dan bumi bagaimana dihamparkan?...” – Al-Ghasyiyah;18-20

Gunung. Sebuah kata yang sedang naik daun setelah beberapa media memaktubkan kemolekannya baik melalui untaian huruf, lensa kamera maupun gerak-gerik film. Definisi dan deskriptif dari kata tersebut kini juga sangat beragam, mulai dari sekedar pemandangan, penimbul bencana, hingga tempat rekreasi. Namun satu hal yang pasti adalah, gunung merupakan hadiah besar yang diberikan oleh yang maha kuasa untuk manusia, terlepas dari persektif pembuat onar maupun pemikat hati.
Disinyalir bahwa satu kata mungil ini telah membuat banyak orang untuk menambahkan kalimat ‘mendaki gunung’ dalam daftar perjalanan mereka. Hal ini dilakukan ada yang memang dikarenakan hobi, ingin jalan-jalan, berolahraga, uji kekuatan, atau sekedar membuktikan perkataan orang yang pernah naik gunung bahwa ‘gunung itu keren lho,asik’. Beragam alasan naik gunung pun bermunculan yang berbanding lurus dengan melambungnya pesona gunung itu sendiri.
Jika kita perhatikan dengan seksama, pada dasarnya gunung merupakan miniatur kehidupan. Di sana akan kita temukan sebuah masa dimana segala sesuatu harus dimulai dengan niat yang kuat untuk mencapai sebuah tujuan. Namun ternyata niat saja tidak cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Secara sadar atau tidak, kita akan dihadapkan pada pos jaga untuk lebih mengkristalkan niat kita dalam secarik kertas untuk mencapai puncak tujuan.
Setelah niat benar-benar bulat, baru kita bisa menapaki lika-liku perjalanan untuk mencapai puncak. Terkadang kita disuguhkan dengan jalan yang landai dan mudah dilalui, namun tidak jarang kita akan menemui bebatuan yang terjal hingga kita harus merangkak untuk melaluinya, atau rintangan berupa jalan setapak yang licin dan memiliki kemungkinan tergelincir sangat besar jika tidak berhati-hati. Tidak berhenti sampai disitu, setiap gunung tidak merelakan begitu saja puncaknya untuk dinikmati oleh para pendaki. Selalu tersimpan ‘penjaga-penjaga’ yang berbeda untuk setiap keindahan yang akan disuguhkan dari puncak gunung. Semakin indah suguhan, maka akan semakin sulit ‘penjaga’ yang tersedia itu untuk dilalui.
Puncak hanya disuguhkan kepada orang-orang yang memang pantas untuk menginjaknya, pantas untuk mendudukinya, dan pantas untuk menikmatinya, setelah apa yang mereka usahakan dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga. Tidak akan diperkenankan mencapai puncak bagi mereka yang jago mengeluh, tidak serius dalam meraihnya, dan tidak menghormati perjalanannya.
Sama halnya dengan sebuah kehidupan. Tujuan yang kita inginkan sekecil apapun harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, walau terkadang kita harus mengahadapi permasalahn yang bahkan menyuguhkan persimpangan antara putus asa atau melanjutkan usaha. Atau mendapatkan situasi dimana kita harus menggapai tangan orang lain untuk sekedar melanjutkan selangkah kaki kita dan mengulurkan tangan kita untuk menjaga orang lain agar tidak terhempas jatuh.
Semua perjuangan yang telah kita lakukan akan terbayar semua ketika kita telah menapakkan kaki kita di puncak perjalanan. Dimana secara tidak sadar seonggok daging ini akan mengingat betapa tidak berdayanya ia dihadapan sang pencipta. Ia akan mengetahui bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mungil dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Sangat sombong kiranya ketika seorang manusia menganggap dirinya mampu melakukan semua hal tanpa bantuan orang lain, bahkan tanpa bantuan Tuhan.
Tuhan – itulah yang akan muncul di benak para pendaki seketika mereka mencapai puncak tujuan setelah bermandi peluh menapaki prosesnya.
Tidakkah kita perhatikan bagaimana sebuah penciptaan dilakukan, dengan langit yang menjulang tanpa tiang, kokohnya gunung yang berdiri menantang, daratan yang nyaman dipijaki, dan luasnya laut sejauh mata memandang? Ya, kasta nyata yang membedakan antara pencipta dan karya cipta. Sudah semestinya seorang manusia membuang bahkan menghilangkan jauh-jauh rasa congkaknya ketika berjalan di muka bumi ini. Tanah yang disediakan secara cuma-cuma oleh sang pencipta untuk seluruh makhluknya. Hal tersebut sudah sepantasnya bisa meningkatkan rasa syukur dan kerendahan kita terhadap hidup dan kehidupan terutama sang pembuat skenario kehidupan.

No comments:

Post a Comment

yuhu~