Hewan Poikiloterm dan
Gerak Respon
Pada pengamatan kali ini,
dilakukan beberapa metode. Antara lain perlakuan normal, perlakuan air hangat
dan perlakuan air dingin. Hal ini bertujuan untuk melihat dan mengamati
perubahan suhu pada katak yang dikatakan hewan poikilotermis. Yaitu hewan yang
bisa menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan.
Pada perlakuan normal,
katak diukur suhu badannya dengan memasukkan termometer batang lalu mengamati
suhu awal sebelum diberlakukan beberapa perlakuan. Setelah mendapati suhu awal,
lalu dilanjutkan dengan perlakuan kedua, yaitu meletakkan katak dalam air hangat.
Namun sebelum meletakkan dalam air hangat, terlebih dahulu mengukur suhu
lingkungan yaitu suhu air hangat tersebut. Lalu mengikat katak dalam sebuah
tangkai atau bambu agak tidak melompoat. Selama perendaman ini, termometer
batang dimasukkan ke dalam tubuh katak melalui mulut dengan maksud melihat
perubahan suhu yang terjadi. Hal serupa juga dilalkukan pada perlakuan air
dingin.
Pada perubahan ketiga
suhu ini menandakan bahwa katak merupakan hewan poikilotermis yang mampu
beradaptasi dengan sangat baik terhadap lingkungannya, dan mampup mengubah atau
menyesuaikan suhu tubuhnya dengan lingkungan.
Beralih ke praktikum
paling menyeramkan di dunia.
Pada percobaan respon
gerak katak, dilakukan beberapa paelakuan. Antara lain rangsangan panas,
galvani, chemis, dan perusakan medula spinalis.
Tujuan dari beberapa
perlakuan ini yaitu untuk membandingkan macam respon yang diberikan katak
terhadap berbagai macam perlakuan yang berbeda.
Dari beberapa perlakuan
tersebut, didapati bahwa tidak semua katak memberikan respon yang sama terhadap
rangsang. Beberapa katak merespon api sangat cepat, ada sebagian katak yang
lebih cepat respon ketika diberi perlakuan galvani, dan ada juga katak yang
lebih kuat responnya ketika diberi larutan H2SO4. Namun jika diambil ratarata
respon terbaik, maka rata-rata katak memberikan respon yang sangat kuat
terhadap perlakuan Chemis atau pemberian H2SO4. Hal ini menandakan bahwa tiap
katak memiliki kecenderungan menanggapi rangsang yang berbeda tergantung
kondisi tubuhnya. Sebagai contoh pada katak yang berukuran kecil sangat cepat
ketika dirangsang dengan galvani, namun pada katak yang besar, sebagian sangat
lambat bahkan hanya merespon sedikit. Hal ini bisa disebabkan kondisi ketebalan
kulit yang berbeda antara katak satu dengan yang lain.
Pada perlakuan chemis
sebagian besar katak memberikan respon yang baik karena cairan kimia ini
tergolong cairan keras yang bersifat korosif. Sehingga ketika cairan ini
menyentuh kulit katak, baik kondisi kulit katak itu tebal maupun tipis, tetap
akan memberikan rangsangan yang kuat pada bagian yang terkena cairan kimia ini.
Setelah keempat perlakuan
selesai, lalu dilanjutkan dengan proses Decaputasi, yaitu perlakuan dengan
memotong bagian caput atau kepala dari katak tersebut dengan maksud mengetahui
respon katak yang sudah tidak memiliki otak. Setelah decaputasi maka katak
diberi perlakuan yang sama seperti kondisi awal yaitu panas, galvani, dan
chemis. Dari beberapa perlakuan ini, hampir semua masih memberikan respon yang
baik oleh katak. Hal ini menandakan bahwa respon yang diberikan oleh katak
berupa respon atau gerak reflek, sehingga tidak membutuhkan saraf pusat yaitu
otak untuk mengkoordinasikan macam gerak apa atau respon yang seperti apa yang
harus dikeluarkan oleh katak terhadap beberapa perlakuan.
No comments:
Post a Comment
yuhu~