Thursday, November 15, 2012

Revitalisasi Intelektual Organik

Pendidikan merupakan aspek penting dalam tataran sebuah negara, modal utama yang mutlak dimiliki dengan kualitas tinggi untuk menentukan arah dan tujuan, serta petunjuk logis untuk menentukan nasib bangsa kedepannya. Pedidikan juga merupakan salah satu indikator dalam menentukan apakah negara tersebut layak disebut negara maju atau masih harus membenahi segala hal dengan predikat berkembangnya. Bahkan urgensi pendidikan bisa diletakkan pada pondasi intelektual yang dijadikan sebagai dasar dalam menopang bumi kenegaraan, yang ketika pondasi itu kokoh, maka akan mempermudah pembangunan dinding, tiang, bahkan sampai pada atap kemapanan dalam pembangunan rumah kenegaraan.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan permasalahan pendidikan yang cukup banyak, dimana terdapat pendidikan yang tidak merata hingga masuk pada tahap komersialisasi pendidikan yang berdampak pada melangitnya biaya pedidikan. Hal ini mengakibatkan munculnya sebuah opini bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Sehingga berakibat pula pada sulitnya pencapaian tujuan pendidikan yang bermaksud mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan sesuai dengan tujuan pendidikan yang termaktub dalam undang-undang pendidikan.
Komersialisasi terkadang juga dibutuhkan dalam pendidikan untuk tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran. Namun sangat fatal akibatnya jika hal ini dijadikan orientasi utama dari proses pendidikan, karena akan berakibat pada lunturnya esensi pendidikan dan tidak akan tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Sehingga dampak terburuknya adalah terbentuknya peserta didik yang hanya berpola pikir komersil dengan tujuan memperoleh materi sebanyak-banyaknya untuk mengembalikan biaya pendidikan yang telah ia keluarkan dan nantinya akan digunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya, begitu seterusnya.
Ditambah lagi dengan orientasi peserta didik yang hanya mengutamakan hasil ketimbang proses. Hal ini juga merupakan salah satu percabangan dari akar pemikiran materil yang menuntut adanya torehan angka yang maksimal dengan tidak mementingkan tahapan-tahapan pencapaian dalam hasil tersebut, dengan anggapan bahwa biaya pendidikan yang tinggi harus diimbangi dengan angka yang spektakuler. Sehingga tak sedikit lembaga pendidikan yang hanya mencetak intelektual yang memposisikan dirinya sebagai objek pendidikan yang berpacu pada butir-butir nilai saja. Mereka berpikir seolah indikator keberhasilan pendidikannya hanya diukur dari angka-angka yang tercetak manis di atas kertas. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara teori dan praktik dalam hasil pendidikan peserta didik.
Kesenjangan ini sudah sejak lama dikritisi oleh berbagai praktisi pendidikan. Sebut saja Antonio Gramsci, seorang pemikir yang mencetuskan gagasan intelektual organik. Sebuah konsep populer yang mungkin telah pudar dari benak sistem pendidikan Indonesia. Intelektual yang bermakna penghapusan adanya batas-batas antara teori dan praktik, serta mengedepankan implementasi teori terhadap masyarakat luas. Intelektual organik juga merupakan kaum terdidik yang tidak hanya berpikir berdasarkan kaidah saintifik, melainkan akademisi yang mengimplementasikan teori yang mereka dapatkan untuk memajukan intelektualitas dari berbagai poros kehidupan dan jauh dari tendensi materi serta kepentingan akan sebuah pencapaian nilai semata.
Sebuah konsep sederhana yang mengedepankan perubahan ke arah yang lebih baik dengan bahasa terpelajar. Konsep yang akan mengutamakan suara-suara lirih masyarakat yang juga ingin merasakan nikmatnya berjibaku dengan teori-teori alam yang sedikit banyak terangkum dalam ruang lingkup pendidikan, sebuah gagasan akan terciptanya pola pikir yang jauh dari kompetisi mati-matian terhadap angka-angka yang tercetak di atas kertas namun minim akan esensi pendidikan yang sesungguhnya, dan sebuah gebrakan menuju hasil serta proses pendidikan yang akan mendobrak pola pikir matrialistis dan teoritis pendidikan
Saat ini memang sudah sangat jarang akan hadirnya sosok seorang intelektual organik, namun jika hal ini berhasil kita hidupkan lagi terutama dimulai dari diri kita sendiri, maka hasil terbaiknya adalah terciptanya pendidikan yang jauh akan opini bahwa pendidikan itu haruslah mahal, pendidikan itu hanyalah milik orang berduit saja dan kualitas pendidikan berbanding lurus dengan biaya yang mampu dikeluarkan. Maka ketika itu semua telah sirna dari potret pendidikan Indonesia, tujuan pendidikan yang telah dirumuskan bukan lagi sekedar wacana dan penghias manis undang-undang pendidikan belaka, melainkan sebuah redaksional yang bukan mustahil akan kita capai, nikmati bersama, merata dan berkualitas.

No comments:

Post a Comment

yuhu~