Thursday, November 15, 2012

Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial




Ramadhan merupakan bulan penting umat Islam yang memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bulan lainnya. Bulan yang ‘dianak emas’-kan oleh Allah dengan berbagai kejadian mulia yang Ia hadirkan di dalamnya, bulan yang bergelimang pahala dan penghapusan dosa, serta merupakan bulan yang dispesialkan oleh Nabi Muhammad dengan mendapat predikat bulan terbaik yang bahkan kebaikannya lebih dari seribu bulan.
Tidak berlebihan dan memang pantas rasanya jika semua umat muslim dari berbagai penjuru dunia menempatkan bulan ramadhan sebagai bulan yang sangat dinantikan kehadirannya. Karena  jika kita melihat sisi keutamaan bulan ramadhan yang merupakan bulan dimana diturunkannya Al-qur’an pertama kali, juga merupakan momentum kebangkitan bagi umat muslim dimana Nabi Muhammad mendapat pencerahan pertama di gua hiro akan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Hal ini memaksa dirinya untuk berkontemplasi terhadap realitas masyarakat Arab jahiliyah yang jauh dari perikehidupan manusia beradab.

Revitalisasi Intelektual Organik

Pendidikan merupakan aspek penting dalam tataran sebuah negara, modal utama yang mutlak dimiliki dengan kualitas tinggi untuk menentukan arah dan tujuan, serta petunjuk logis untuk menentukan nasib bangsa kedepannya. Pedidikan juga merupakan salah satu indikator dalam menentukan apakah negara tersebut layak disebut negara maju atau masih harus membenahi segala hal dengan predikat berkembangnya. Bahkan urgensi pendidikan bisa diletakkan pada pondasi intelektual yang dijadikan sebagai dasar dalam menopang bumi kenegaraan, yang ketika pondasi itu kokoh, maka akan mempermudah pembangunan dinding, tiang, bahkan sampai pada atap kemapanan dalam pembangunan rumah kenegaraan.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan permasalahan pendidikan yang cukup banyak, dimana terdapat pendidikan yang tidak merata hingga masuk pada tahap komersialisasi pendidikan yang berdampak pada melangitnya biaya pedidikan. Hal ini mengakibatkan munculnya sebuah opini bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Sehingga berakibat pula pada sulitnya pencapaian tujuan pendidikan yang bermaksud mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan sesuai dengan tujuan pendidikan yang termaktub dalam undang-undang pendidikan.

Sunday, June 24, 2012

Menu Bayam Merah (Amaranthacea gangeticus) Sebagai Alternatif Pengobatan Anemia

Menu Bayam Merah (Amaranthacea gangeticus) Sebagai Alternatif Pengobatan Anemia


Moch. Agus Krisno B, Elgi Zulfakar Diniy
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

Abstract
Anemia (in Greek: Without Blood) is a state when the number of red blood cells or amount of hemoglobin (oxygen carrying protein) in red blood cells is below normal. Red blood cells contain hemoglobin that allows them to carry oxygen from the lungs, and deliver to all parts of the body.
Iron deficiency can cause anemia, which resulted in oxygen carried to the network decreases. Anemia leads to reduced number of red blood cells or amount of hemoglobin in red blood cells, so that blood can not transport oxygen in the body as needed. The result is a lack of energy, lethargy, headaches, and dizziness. More anemia experienced by women because the women happen to lose more iron due to blood loss during menstruation. This can be prevented by eating foods that contain iron are quite high. Spinach is one source of the iron content of 3.9 mg / g.
In 100 grams of spinach contains a power of 21.0 kcal, 92.9 g water, 2.1 grams protein, 0.2 grams fat, 2.7 g carbohydrates, 0.7 grams fiber, 1.4 g ash, calcium 90 , 0 mg, phosphorus 29.0 mg, iron 3.8 mg, 131.0 mg sodium, potassium 385.0 mg, 4080.0 ug beta-carotene, 0.08 mg vitamin B1, vitamin B2 0.15 mg, niacin 0 , 7 mg, and 76.7 mg vitamin C
Keywords : Anemia, deficiensy, haemoglobin, red spinach.

Thursday, March 15, 2012

Menuju Predikat Negara Maju


Indonesia merupakan salah satu dari banyak Negara yang menyandang predikat Negara berkembangdi dunia, ini menunjukkan bahwa masih banyaknya kekurangan yang harus diperbaiki, baik dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, pertahanan, dan keamanan. Untuk membenahi itu semua tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan upaya yang serius dari semua pihak untuk menangani segala permasalahan yang ada.
Di awal tahun 2012 ini, harusnya menjadi sebuah momentum perubahan bagi bangsa Indonesia untuk bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, dan mulai menjauh dari label Negara berkembang.
Momentum perubahan ini harus dimulai dari menangani masalah yang telah mengakar dan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki negeri ini. Seperti yang telah dirintis oleh salah satu walikota di Indonesia yang mulai gencar memakai dan memasarkan produk hasil karya anak bangsa, yaitu mobil esemka. Hal ini perlu dilakukan guna menaikkan derajat dan mempublikasikan bahwa karya anak bangsa juga layak dan mampu bersaing dengan produk luar. Meskipun dalam perjalanannya masih banyak yang menyoalkan perihal uji remisi dan plagiatisme terhadap model luar.
Terlepas dari kontroversi yang timbul itu, baiknya hal ini menjadi titik balik Indonesia untuk lebih maju dalam bidang teknologi dan ekonomi, karena tidak menutup kemungkinan jika mobil ini akan diproduksi masal. Jika ini terwujud, indonesia tentunya tidak lagi menjadi pengimpor setia mobil-mobil buatan luar. Sehingga semboyan “cintailah produk Indonesia” bukan lagi sebuah slogan yang kerap kali terdengar di telinga kita.
Namun kenyataan yang perlu dipertanyakan adalah, apakah semua pejabat dan termasuk kita mau mengikuti jejak yang di lakukan walikota solo dalam memakai mobil esemka menjadi mobil dinas yang merupakan salah satu pengimplementasian terhadap cinta produk dalam negeri, ataukah tetap mempertahankan gengsi kita dengan memakai mobil mewah buatan luar sembari menunjukkan kekayaan pribadi dengan alasan mobil dalam negeri belum layak guna karena belum lolos uji kelayakan.
Akar permasalahan ketidakpercayaan ini sebenarnya terletak pada rendahnya kualitas karya yang melekat pada minimnya sumberdaya manusia yang ada. Sehingga langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan sumber daya berupa tenaga ahli untuk mencetak generasi yang berkompeten dalam bidangya. Sumber daya pokok dan mutlak ada yaitu guru yang berkualitas. Karena guru merupakan tonggak pencerdasan dan kesiapan anak bangsa dalam menyongsong masa depan termasuk penciptaan karya-karya yang berkualitas. Maka baiknya kita menjadikan finlandia sebagai cermin pendidikan karena negara ini telah diakui dunia sebagai negara dengan kualitas pendidikan nomor 1 di dunia.
Pada prosesnya, finlandia lebih menekankan aspek kualitas tenaga pengajar dan menuntut guru untuk terus belajar, sehingga ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dalam ruang lingkup bidangnya saja. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi Indonesia yang menyediakan tenaga pengajar seadanya saja dan terdapat kesenjangan kualitas antara guru di daerah kota besar dengan daerah pelosok, sehingga hasil dalam proses belajar mengajar kurang maksimal dan tidak merata. Sehingga kualitas hasil pendidikan tidak masksimal. Jika hal ini terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan kualitas pendidikan kita akan sama dari tahun ke tahun. Dan mimpi memiliki tenaga ahli yang berkompeten dalam bidangnya dengan hasil karya yang optimal akan sulit untuk diwujudkan.
Jadi, mau tidak mau pemerintah dan segenap masyarakat harus bekerjasama dalam upaya menyukseskan pendidikan bangsa, jika ini tercapai maka kualitas anak bangsa akan meningkat dan mampu dibebani tugas untuk menciptakan karya yang berkualitas dan mampu bersaing dengan produk luar sehingga semboyan cintailah produk dalam negeri lebih rasional jika diterapkan. Dan efek jangka panjang dari keberhasilan ini yaitu semakin besarnya peluang Indonesia dalam menanggalkan predikat negara berkembang menuju negara maju.