Monday, March 31, 2014

Portal ke-16

Aku
Pernah mendengar namamu begitu menggelitik telingan ini semasa aku berseragam. Mencoba membayangkan pesona dari sepercik cerita-cerita indah punggawamu. Ya, ketika itu kita belum saling mengenal satu sama lain. Namun pernah terbersit niat untuk ingin ditemani olehmu selama aku menjalani hiruk pikuk miniatur negara ini.

Kamu
Rumah pertama yang kujadikan tempat pelepas lelah setelah interaksi dengan banyak orang asing. Lumbung yang telah menyuapiku dengan berbagai macam makanan baik maupun buruk. Ya, meskipun pada dasarnya rumahku di sini bukan hanya kamu,hhi...

Aku
Pernah bercerita tentang kegagahanmu. Mulai ketika kamu lahir, belajar merangkak, berjalan, berlari, hingga bisa berteriak lantang

Aku
Pernah melihatmu bersama teman-teman yang lain berkerumun memenuhi aspal, berdiri gagah menantang matahari dan melangkah bak serdadu.

Kamu
Diusia 15mu tahun lalu, di bawah paparan rembulan, sempat aku merenung sembari menatap panggung deklarasi dimana namamu pertama kali disebut dan dimaktubkan dalam secarik kertas. Mencoba berkhayal tentang riuhnya gema takbir menyambut kelahiranmu, membayangkan semangat juang yang memenuhi setiap inci lantai ruang itu.

Aku
Teringat ketika aku bermandi peluh menantang himpitan waktu. Bersama teman-temanku dengan sangat gagah menjunjungmu setinggi mungkin. Tidak ingin kau terhimpit ditengah-tengah panji pesaingmu, dengan maksud menunjukkan bahwa kamu masih hidup.

Aku
Tapi itu dulu. Dulu ketika kita masih bersanding mesra. Berjalan beriring bersama, mencoba memutihkan tempat yang penuh warna. Ya, masa dimana semangatku dan semangatmu bisa seiring sejalan.

Kamu
Kini kau memasuki portal ke 16. Usia emas yang harusnya menjadi masa dimana namamu menjadi buah bibir setiap orang dan panjimu ditinggikan. Masa dimana punggawamu semakin jatuh hati terhadapmu. Masa dimana tumbuh keinginan khalayak untuk membuat sejarah bersamamu. Masa dimana langkahmu makin membumi, dan masa dimana tubuhmu berdiri tegap. Masa-masa keniscayaan.

Kamu
Sosokmu kini makin asing dimataku. Sulit membedakan prajuritmu dengan pasukan yang lain. Meraba-raba ketika harus melihat panjimu, apakah masih seperti dulu atau telah tertumpah warna lain. Punggawamu juga lebih sering kulihat bermain dengan orang tua, berjenggot dan berbendera. Mereka terlihat lebih bersemangat  walaupun berdiri tegak lurus dengan matahari, berkumpul penuh sesak di sebuah stadion, dan mengangkat bendera yang jauh lebih besar dari milikmu. Yang tidak kusuka yaitu ketika tak jarang namamu disandingkan dengan nama mereka.

Ya, entah aku terlalu yakin atau ekspektasiku terlalu tinggi perihal idealismu, idealis yang makin lama kulihat makin luntur seiring munculnya warna dan suara para orang tua itu. Hilang sudah keajaiban kata ‘ta’limat’ terhadap prajuritmu, tergantikan dengan kepatuhan dan semangat terhadap instruksi para ‘tetua’.

Aku
Sempat terbersit seonggok pertanyaan, apakah umurmu lebih tua atau masih lebih muda dari yang sebenarnya? Bagaimana kabarmu sekarang? Banyak orang menanyakan keadaanmu, menanyakan punggawamu yang senantiasa bertilawah ketika berkumpul, menanyakan panjimu yang senantiasa dijunjung dengan gema takbir. Itu semua pertanyaan yang susah untuk aku jawab, dan bahkan terkadang kutimpali dengan pertanyaan nakalku, apakah kamu masih mampu membuat jejak semasa dulu? Ataukah hanya tenggelam dalam senja sejarah yang indah?

Kamu
Mawarmu tak semerah dulu, tanganmu tak sekekar dulu, dan warna-warna itu seakan memudar. Tenanglah, bagaiamanapun keadaanmu, masih tersimpan sebongkah keyakinanku bahwa kau akan tetap ada. Ya, ada meskipun dengan nafas yang tersengal, tubuh yang membungkuk dan langkah yang tertatih.

Kamu
Hei, jangan pernah tanya kemana perginya aku. Tanyalah kepada punggawamu yang lain atau bisa juga kau bertanya pada dirimu sendiri. Kenapa mereka lebih bisa tersenyum bersama orang tua itu, bisa lebih erat mengelilingi bendera itu dan lebih bangga memakai baju itu? Daripada bersamamu?

Aku
Rindu pada masa dimana kita mewarnai aspal-aspal itu, takbir bersama, duduk bersama, bercengkrama mengenai nasibmu, aku dan tempat yang kita pijaki ini. Tersenyum di dalam proyeksi manis kita tentang masa mendatang. Melingkar di sebuah tempat sederhana tanpa ada pembicaraan lain kecuali kita, ya kita. Tanpa mereka, tanpa dia, tanpa warna lain, dan tanpa orang tua.

Masa dimana kata faham, tsiqoh dan ta’limat menjadi kekuatan kita bersama, dan masa dimana aku bisa membedakan antara punggawamu dan prajurit orang tua tanpa ada interfensi serta kepentingan yang sering digabungkan dengan urusan para tetua itu.

Aku
Ya, meskpiun tak sehebat teman-temanku dalam mengenalmu dan mencintaimu, meskipun tidak selama mereka berinteraksi bersamamu, tapi yakinlah bahwa aku masih paham bagaimana cara memperlakukanmu sebagaimana mestinya. Aku paham bagaimana cara mengangkat panjimu, aku paham bagaimana cara bersenda gurau bersamamu, dan aku masih sangat paham bagaimana bertakbir lantang bersamamu.


Untukmu yang telah menemaniku :3

Sunday, March 16, 2014

Fisiologi Hewan

Hewan Poikiloterm dan Gerak Respon

Pada pengamatan kali ini, dilakukan beberapa metode. Antara lain perlakuan normal, perlakuan air hangat dan perlakuan air dingin. Hal ini bertujuan untuk melihat dan mengamati perubahan suhu pada katak yang dikatakan hewan poikilotermis. Yaitu hewan yang bisa menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungan.

Pada perlakuan normal, katak diukur suhu badannya dengan memasukkan termometer batang lalu mengamati suhu awal sebelum diberlakukan beberapa perlakuan. Setelah mendapati suhu awal, lalu dilanjutkan dengan perlakuan kedua, yaitu meletakkan katak dalam air hangat. Namun sebelum meletakkan dalam air hangat, terlebih dahulu mengukur suhu lingkungan yaitu suhu air hangat tersebut. Lalu mengikat katak dalam sebuah tangkai atau bambu agak tidak melompoat. Selama perendaman ini, termometer batang dimasukkan ke dalam tubuh katak melalui mulut dengan maksud melihat perubahan suhu yang terjadi. Hal serupa juga dilalkukan pada perlakuan air dingin.

Pada perubahan ketiga suhu ini menandakan bahwa katak merupakan hewan poikilotermis yang mampu beradaptasi dengan sangat baik terhadap lingkungannya, dan mampup mengubah atau menyesuaikan suhu tubuhnya dengan lingkungan.

Beralih ke praktikum paling menyeramkan di dunia.

Pada percobaan respon gerak katak, dilakukan beberapa paelakuan. Antara lain rangsangan panas, galvani, chemis, dan perusakan medula spinalis.

Tujuan dari beberapa perlakuan ini yaitu untuk membandingkan macam respon yang diberikan katak terhadap berbagai macam perlakuan yang berbeda.

Dari beberapa perlakuan tersebut, didapati bahwa tidak semua katak memberikan respon yang sama terhadap rangsang. Beberapa katak merespon api sangat cepat, ada sebagian katak yang lebih cepat respon ketika diberi perlakuan galvani, dan ada juga katak yang lebih kuat responnya ketika diberi larutan H2SO4. Namun jika diambil ratarata respon terbaik, maka rata-rata katak memberikan respon yang sangat kuat terhadap perlakuan Chemis atau pemberian H2SO4. Hal ini menandakan bahwa tiap katak memiliki kecenderungan menanggapi rangsang yang berbeda tergantung kondisi tubuhnya. Sebagai contoh pada katak yang berukuran kecil sangat cepat ketika dirangsang dengan galvani, namun pada katak yang besar, sebagian sangat lambat bahkan hanya merespon sedikit. Hal ini bisa disebabkan kondisi ketebalan kulit yang berbeda antara katak satu dengan yang lain.

Pada perlakuan chemis sebagian besar katak memberikan respon yang baik karena cairan kimia ini tergolong cairan keras yang bersifat korosif. Sehingga ketika cairan ini menyentuh kulit katak, baik kondisi kulit katak itu tebal maupun tipis, tetap akan memberikan rangsangan yang kuat pada bagian yang terkena cairan kimia ini.


Setelah keempat perlakuan selesai, lalu dilanjutkan dengan proses Decaputasi, yaitu perlakuan dengan memotong bagian caput atau kepala dari katak tersebut dengan maksud mengetahui respon katak yang sudah tidak memiliki otak. Setelah decaputasi maka katak diberi perlakuan yang sama seperti kondisi awal yaitu panas, galvani, dan chemis. Dari beberapa perlakuan ini, hampir semua masih memberikan respon yang baik oleh katak. Hal ini menandakan bahwa respon yang diberikan oleh katak berupa respon atau gerak reflek, sehingga tidak membutuhkan saraf pusat yaitu otak untuk mengkoordinasikan macam gerak apa atau respon yang seperti apa yang harus dikeluarkan oleh katak terhadap beberapa perlakuan.

Fisiologi Hewan

Uji kehamilan Metode Galli Manini

HCG (Huma Charionic Gonadothropin) adalah hormone peptide yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan selanjutnya oleh syncytiotrophoblast. Hormone kehamilan yang dihasilkan oleh villi chorioles ini berdampak pada meningkatnya produksi progesterone oleh indung telor sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. HCG memberitahu ovarium untuk memproduksi progesterone, tetapi hal ini terjadi hanya pada masa kehamilan. Sehingga HCG lebih bermanfaat bagi anak lakilaki dibanding anak perempuan.

Pada praktikum ini mengggunakan katak sebagai probandus, hal ini dilakukan untuk menguji teori mengenai kemampuan hormone pada HCG yang dapat merangsang jantan jika disuntikkan. Pada perangsangan pertama hanya mendapatkan cairan yang keluar dari kloaka berupa urin. Lalu dilanjutkan dengan penyuntikan urin ibu hamil pada katak. Setelah 30 menit berlangsung, ternyata tidak terjadi apaapa, sehingga untuk percobaan kali ini Gali Manini bisa dikatakan gagal karena tidak terbukti dapat mengeluarkan sperma katakk, hal ini juga terjadi pada perlakuan control, yaitu penyuntuikan menggunakan aquades.


Kegagalan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kurang tepatnya sampel air urin yang digunakan, sehingga mempengaruhi HCG, lalu bisa disebabkan juga oleh metode penyuntuikan urin. Pada penyuntikan urin yang tidak tepat sangat memungkinkan untuk gagalnya tes karena urin harus mengalir / berdiam pada tempat yang tepat untuk menghasilkan rangsangan yang maksimal.

Fisiologi Hewan

Sekelumit hasil pengamatan laboratorium:

Pada pengamatan pembuluh darah ikan, didapati bahwa ikan memiliki pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena. Ciri yang terlihat dalam pengamatan ini yaitu arteri berukuran lebih besar, lebih deras pergerakan alirannya dan lebih Nampak serta mengarah ke ujung ekor. Ini menandakan bahwa pembuluh arteri merupakan pembuluh yang mengarah ke seluruh tubuh. Sedangkan pada pembuluh darah vena terlihat lebih kecil dan tidak terlalu deras serta arahnya berlawanan dengan pembuluh arteri, pembulur darah ini juga disebut pembuluh darah balik, yaitu yang mengangkut darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung.

Pada percobaan termoregulasi manusia, didapati bahwa suhu tubuh ketika perlakuan normal, dingin dan panas tidak berubah drastic, suhu tubuh yang didapa berkisar antara 36,5;36,2; dan 36,9. Sehingga dapat dikategorikan bahwa manusia termasuk dalam homoitermis, cenderung mempertahankan suhu tubuhnya.
Berbeda dengan perlakuan pada katak. Ketika katak diberi perlakuan dengan suhu di dalam air es, maka dihasilkan suhu katak berkisar antara 24C. pada perlakuan ketiga yaitu perlakuan pada air hangat, didapati bahwa katak berubah suhu tubuhnya berkisar pada suhu air hangat yang diberi sebagai perlakuan pada katak. Sehingga dari percobaan ini dapat dikategorikan bahwa katak termasuk hewan poikiloterm yang cenderung menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan, atau bisa dikatakan bahwa katakmemiliki suhu tubuh yang fluktuatif bergantung pada suhu di sekitarnya.

Pada percobaan beaker glass, dapat diketahui bahwa minyak lebih baik dalm menghantarkan panas, sedangkan air masih tergolong isolator penghantar panas yang kurang baik. Hal ini bisa dilihat dari hasil pengukuran bahwa beaker glass dengan minyak mempunya suhu yang lebih tinggi dengan perbandingan 65C:59C.

Sedangkan pengamata menggunakan kendi, didapati bahwa kendi yang dilapisi dengan cat lebih lama menyimpan panas, hal ini dikarenakan poripori kendi tertutup cat sehingga mempersulit udara/suhu dalam bertukar dengan suhu luar. Berbeda dengan kendi yang tanpa dilapisi cat, kendi ini memiliki poripori yang lebih terbuka dan terkesan lebih besar dibandingkan dengan yang dilapisi dengan cat, sehingga mempermudah adanya pertukaran anntara suhu luar dengan suhu dalam.

Sedikit kesimpulan dari pengamatan ini:
Homoiterm merupakan hewan berdarah panas, sedangkan poikiloterm yaitu hewan berdarah dingin atau hewan yang suhu tubuhnysa mengikuti suhu lingkungan sekitar.
Kendi yang diplapisi oleh cat lebih lama panasnya dikarenakan poripori tertutup, sehingga menghambat pertukaran suhu dalam dan suhu luar.
Minyak lebih baik dala menghantarkan panas dibandingkan dengan air biasa.