Satu tahun
sekali kawan, kenapa harus dirusak dengan sebuah perkataan usil bahwa
lomba-lomba itu tidak ada gunanya, bahwa lomba-lomba itu tidak melambangakan
sebuah kemerdekaan, bahwa lomba-lomba itu sekedar seremonial pengisi waktu luang
belaka, atau dengan kalimat yang seolah berbobot namun tak kalah jahil
mengatakan bahwa ‘lucu bukan, ketika kita flashback pada masa dimana naskah
proklamasi pertama kali dibacakan di depan umum sekian tahun yang silam dengan
bentuk perayaan yang sangat aneh, yang tak lain hanya guyonan rakyat-rakyat
kecil’. Sebuah penantian sebelas bulan lebih untuk ‘perayaan agung’ ini. Ya, pahamilah
bahwa itu adalah penantian yang cukup panjang untuk kita bersenang-senang
dengan gaya Merah Putih kita.
Kuberitahu kau sedikit rahasia
kawan...
Bukankah lomba makan kerupuk itu
berfilosofi pada perebutan kemerdekaan yang teramat susah dengan segala
perjuangan dan keterbatasan yang ada?
Bukankah perang bantal di atas
empang itu bernilai akan perjuangan mengusir belanda? Dimana yang menang
tentunya berkuasa akan negeri yang ditempatinya dengan segala sumber daya yang
ada.
Bukankah lomba balap karung itu
menunjukkan bahwa walaupun kita terbelenggu, namun kita harus tetap berusaha
dengan segala kemampuan untuk bisa mencapai suatu tujuan?
Bukankah memasukkan benang dalam
jarum sambil berjalan itu mengajarkan pada kita pentingnya ketelitian dan
kecermatan dalam melakukan sesuatu hingga akhirnya kepuasan akan kemenangan itu
diperoleh?
Bukankah mengambil koin dalam
pepaya yang dilumuri oli itu mendidik kita bahwa keras dan pahitnya perjuangan
itu harus dilalui walau hanya demi kemenangan yang kecil?
Panjat pinang? Bukankah kalian
tahu bahwa penjajah itu menyimpan beribu kelicikan dalam menggagalkan bangsa Indonesia
untuk meraih kemerdekaannya? Tapi mereka tetap berusaha dengan berlicin-licin
oli untuk menunjukkan bahwa mereka bisa melalui apapun jika bersama. Ya, pinang
licin itu menyelipkan pelajaran gotong royong yang sudah mulai terkikis zaman
Lalu...
Kegiatan mana lagi yang bisa
menyentuh rakyat Indonesia tanpa memandang jenis lauk yang mereka makan, entah
itu kerupuk ataupun rendang?
Kegiatan mana lagi yang bisa
membelai rakyat Indonesia tanpa memandang rambut hitam maupun putih?
Kegiatan mana lagi yang bisa
memanjakan rakyat Indonesia tanpa memandang roda empat maupun sepatu butut?
Kegiatan mana lagi yang bisa
dengan mudah mempersatukan rakyat Indonesia tanpa memandang kalung salib maupun
kiblat ka’bah?
Dimana orang yang menghina bahwa
‘lomba-lomba itu hanya perayaan belaka yang tidak ada hubungannya dengan
kemerdekaan’?
Dimana orang yang mengatakan
bahwa ‘harusnya mengisi kemeredekaan itu dengan hal yang lebih berguna dari
sekedar euforia dalam lomba’?
Dapat kupastikan si dia tidak
mengetahui bobot luhur yang sedang bersembunyi rapi dibalik serpihan-serpihan
kesenangan yang tak mesti berbentuk kemewahan.
Sekarang tunjukkan padaku orang
yang menghina itu semua...
Tunjukkan padaku kalau sampai
detik ini masih ada manusia yang menganggap itu hanya kemeriahan tidak bermakna
Tunjukkan padaku yang mengatakan
bahwa makan kerupuk itu melambangkan kemiskinan
Tunjukkan padaku yang menyebutkan
bahwa balap karung itu menggambarkan kemelaratan
Tunjukkan padaku yang meminta
kalian untuk tidak sekedar bermandi oli bekas
Tunjukkan padaku kawan, siapa yang
menyuruh kalian meninggalkan itu semua
Jika kalian menemukan makhluk
semacam itu, maka jelaskanlah kepadanya filosofi lomba indah itu sebelum kau
pertemukan denganku
Lalu tanyakan, apakah dia bisa
menghadirkan keceriaan ketika semua kegiatan lucu itu dihilangkan?
Jika dia masih belum mengerti
juga, hadirkan sekarang juga di depanku, maka akan kuajak dia untuk lomba balap
kelereng
Elgi, Untuk 70 Tahun Merah Putih