Sunday, August 16, 2015

Tunjukkan Padaku

Satu tahun sekali kawan, kenapa harus dirusak dengan sebuah perkataan usil bahwa lomba-lomba itu tidak ada gunanya, bahwa lomba-lomba itu tidak melambangakan sebuah kemerdekaan, bahwa lomba-lomba itu sekedar seremonial pengisi waktu luang belaka, atau dengan kalimat yang seolah berbobot namun tak kalah jahil mengatakan bahwa ‘lucu bukan, ketika kita flashback pada masa dimana naskah proklamasi pertama kali dibacakan di depan umum sekian tahun yang silam dengan bentuk perayaan yang sangat aneh, yang tak lain hanya guyonan rakyat-rakyat kecil’. Sebuah penantian sebelas bulan lebih untuk ‘perayaan agung’ ini. Ya, pahamilah bahwa itu adalah penantian yang cukup panjang untuk kita bersenang-senang dengan gaya Merah Putih kita.

Kuberitahu kau sedikit rahasia kawan...
Bukankah lomba makan kerupuk itu berfilosofi pada perebutan kemerdekaan yang teramat susah dengan segala perjuangan dan keterbatasan yang ada?
Bukankah perang bantal di atas empang itu bernilai akan perjuangan mengusir belanda? Dimana yang menang tentunya berkuasa akan negeri yang ditempatinya dengan segala sumber daya yang ada.
Bukankah lomba balap karung itu menunjukkan bahwa walaupun kita terbelenggu, namun kita harus tetap berusaha dengan segala kemampuan untuk bisa mencapai suatu tujuan?
Bukankah memasukkan benang dalam jarum sambil berjalan itu mengajarkan pada kita pentingnya ketelitian dan kecermatan dalam melakukan sesuatu hingga akhirnya kepuasan akan kemenangan itu diperoleh?
Bukankah mengambil koin dalam pepaya yang dilumuri oli itu mendidik kita bahwa keras dan pahitnya perjuangan itu harus dilalui walau hanya demi kemenangan yang kecil?
Panjat pinang? Bukankah kalian tahu bahwa penjajah itu menyimpan beribu kelicikan dalam menggagalkan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaannya? Tapi mereka tetap berusaha dengan berlicin-licin oli untuk menunjukkan bahwa mereka bisa melalui apapun jika bersama. Ya, pinang licin itu menyelipkan pelajaran gotong royong yang sudah mulai terkikis zaman

Lalu...
Kegiatan mana lagi yang bisa menyentuh rakyat Indonesia tanpa memandang jenis lauk yang mereka makan, entah itu kerupuk ataupun rendang?
Kegiatan mana lagi yang bisa membelai rakyat Indonesia tanpa memandang rambut hitam maupun putih?
Kegiatan mana lagi yang bisa memanjakan rakyat Indonesia tanpa memandang roda empat maupun sepatu butut?
Kegiatan mana lagi yang bisa dengan mudah mempersatukan rakyat Indonesia tanpa memandang kalung salib maupun kiblat ka’bah?
Dimana orang yang menghina bahwa ‘lomba-lomba itu hanya perayaan belaka yang tidak ada hubungannya dengan kemerdekaan’?
Dimana orang yang mengatakan bahwa ‘harusnya mengisi kemeredekaan itu dengan hal yang lebih berguna dari sekedar euforia dalam lomba’?
Dapat kupastikan si dia tidak mengetahui bobot luhur yang sedang bersembunyi rapi dibalik serpihan-serpihan kesenangan yang tak mesti berbentuk kemewahan.

Sekarang tunjukkan padaku orang yang menghina itu semua...
Tunjukkan padaku kalau sampai detik ini masih ada manusia yang menganggap itu hanya kemeriahan tidak bermakna
Tunjukkan padaku yang mengatakan bahwa makan kerupuk itu melambangkan kemiskinan
Tunjukkan padaku yang menyebutkan bahwa balap karung itu menggambarkan kemelaratan
Tunjukkan padaku yang meminta kalian untuk tidak sekedar bermandi oli bekas
Tunjukkan padaku kawan, siapa yang menyuruh kalian meninggalkan itu semua

Jika kalian menemukan makhluk semacam itu, maka jelaskanlah kepadanya filosofi lomba indah itu sebelum kau pertemukan denganku
Lalu tanyakan, apakah dia bisa menghadirkan keceriaan ketika semua kegiatan lucu itu dihilangkan?
Jika dia masih belum mengerti juga, hadirkan sekarang juga di depanku, maka akan kuajak dia untuk lomba balap kelereng


Elgi, Untuk 70 Tahun Merah Putih

Thursday, June 18, 2015

Mencintai Indonesia dengan Sederhana



Bila cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang...” – Iwan Fals

          Kawan, masih ingatkah kalian sebuah tanggal yang menggetarkan bangsa ini? Tanggal yang dengan kehadirannya membawa persatuan dan kesatuan, yang dengan keindahannya memecah segala orientasi pribadi, yang dengan kelahirannya menambah kekuatan bagi yang lemah, ya tanggal itu ada 86 tahun yang lalu, 28 oktober 1928.
          Sedikit melawan lupa, pada saat itu berkumpul orang-orang hebat dengan narasinya, pandai dengan aplikasinya, dan mumpuni dalam bidangnya. Mereka mencoba membuat sebuah kristalisasi cita-cita Negara Indonesia dalam sebuah kata-kata yang indah di atas secarik kertas mulia.

“kami, putra dan putri indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air indonesia”
“kami, putra dan putri indonesia mengaku, berbangsa yang satu, bangsa indonesia”
“kami, putra dan putri indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa indonesia”

          Sumpah Pemuda. Sebuah deklarasi kelahiran persatuan indonesia oleh mereka yang masih kuat mengangkat senjata, oleh mereka yang masih sanggup mendaki gunung, oleh mereka yang masih meletup-letup gejolak indah semangatnya, dan oleh mereka yang masih teguh pendiriannya kepada Indonesia tercinta. Ya, mereka adalah para pemuda.
          Pemuda atas dasar perjuangan sendiri yang menyerukan untuk membuat sebuah gerakan perlawanan dalam memajukan indonesia, menyatukan segala bentuk perlawanan atas tanah pribadi, atas dasar indimidasi individu, atas dasar keresahan daerah menjadi sebuah dinamisasi bersama untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah selayaknya disebut sebagai Negara Merdeka.
          Seiring berjalannya waktu, esensi murni dari sumpah Pemuda sudah mulai menghilang ditelan lautan sejarah, seolah sumpah itu hanya rembesan yang bisa dengan mudah hilang diterpa teriknya apatisme pemuda masa kini, atau bahkan sebuah sumpah yang hanya dijadikan senja sejarah yang indah pada masanya dengan warna hitam di atas kertas kumal berjudul Sumpah Pemoeda. Senja menawan yang hanya bisa dinikmati pada waktu tertentu dengan durasi yang begitu singkat, yang akan segera tertelan oleh gelap malam seiring hilangnya sebuah idealisme seorang pemuda.

“berikan aku 10 pemuda, maka aku akan goncangkan dunia” – Soekarno

          Masih terngiang sebuah ucapan dari seorang orator ulung Indonesia yang sempat membuai para pemuda pada masanya, tidak butuh orang tua yang berkumpul dalam jumlah yang luar biasa, tidak perlu pemuda yang berbaris gagah dengan jumlah yang istimewa, cukup dengan 10 (Hanya Sepuluh, kawan) mampu untuk mengangkat harkat dan martabat negara ini di mata dunia.
          Timbul pertanyaan besar akan ucapan beliau kini, apakah masih relevan ketika sepuluh pemuda sanggup menggetarkan dunia? Atau mengguncang negara? Atau memajukan kota? Atau bahkan sekedar membersihkan desa saja sekarang dipertanyakan. Ya, terlalu banyak pemuda yang tertidur dalam nyenyaknya gemerlap usia pemuda, terlalu banyak pemuda yang bersantai di usia produktif mereka, yang seakan berkata pada diri sendiri “biarlah, toh masih banyak pemuda yang mau memperjuangkan bangsa ini, aku cukup menikmati saja”

“jangan tanya yang diberikan tanah air kepadamu, tapi tanyakan pada dirimu apa yang sudah kamu berikan untuk tanah airmu” – John F Kennedy

          Hai pemuda, cukuplah kalian berkomentar tentang apa yang terjadi pada negeri ini, hentikan kesibukan kalian yang hanya sekedar mengoreksi sebuah jalannya kepemimpinan. Tengoklah ke belakang, selamilah lautan sejarah itu, dan konsrtuksikan kembali semangat juang pemuda-pemudi yang melantangkan ikrar bersama sebagai pemantik semangat nasionalisme. Tanyakan pada diri kita, sejauh mana persiapan untuk membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Sejauh mana kontribusi kita untuk tanah surga yang menjadi bumi pertiwi tempat kita menangis pertama kali.
          Ketahuilah, tahun 2030, negara indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Bonus yang diberikan pencipta untuk kepingan surga ini, bonus berupa meledaknya usia pemuda dibandingkan dengan para orang tua. Kondisi strategis yang bisa dimanfaatkan oleh para pemuda untuk mengembalikan ‘masa-masa jaya’ indonesia, masa dimana kita teriak lantang bersama, masa dimana kita bermandi peluh bersama, dan masa dimana kita secara bersama-sama bergerak untuk satu tujuan yang sama Indonesia Sejahtera.
          Masih banyak rakyat yang harus hidup di bawah garis kemiskinan, kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang layak dan berjarak terhadap layanan pendidikan berkualitas. Mengapa cita-cita yang melandasi perjuangan untuk menghadirkan ketiga momentum perubahan tersebut tak kunjung tercapai?
          Jawabnya hanya satu, Idealisme. Sebuah warisan cita-cita yang tak boleh hilang setiap diri yang mengaku pemuda. Warisan yang menentukan nasib bangsa ini berpuluh-puluh tahun kedepan, dan warisan yang bisa membuktikan ucapan soekarno, bahwa masih relevan ketika hanya dibutuhkan 10 pemuda untuk mengguncang dunia.
          Momentum istimewa ini marilah jadikan diri kita tidak hanya sekedar bisa berbicara, tidak hanya sekedar pandai menulis, tapi juga menjadi sebuah pribadi yang mampu mengimplementasikan apa yangtelah dipahami sebagai sebuah teori indah yang nantinya bisa dinikmati dengan visualisasi berupa gerakan bersama yang memajukan indonesia.
          Jadikan sumpah pemuda sebuah sejarah yang pantas untuk dikenang dan layak untuk di munculkan kembali darah juangnya. sebelum hilang semangatnya, sebelum hilang jadi dirinya, sebelum luntur bendera itu, sebelum luntur cinta pada tanah air ini, cinta terhadap bangsa ini dan cinta terhadap bahasa ini. Karena masingmasing hanya bisa menyerahkan satu badan saja, satu roh saja, satu jiwa saja, satu cinta saja, dan ketika cinta itu merekah sebagaimana mestinya, cita-cita baru bisa tercapai dengan menawan.

Puncak

“... Dan langit, bagaimana ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?
Dan bumi bagaimana dihamparkan?...” – Al-Ghasyiyah;18-20

Gunung. Sebuah kata yang sedang naik daun setelah beberapa media memaktubkan kemolekannya baik melalui untaian huruf, lensa kamera maupun gerak-gerik film. Definisi dan deskriptif dari kata tersebut kini juga sangat beragam, mulai dari sekedar pemandangan, penimbul bencana, hingga tempat rekreasi. Namun satu hal yang pasti adalah, gunung merupakan hadiah besar yang diberikan oleh yang maha kuasa untuk manusia, terlepas dari persektif pembuat onar maupun pemikat hati.
Disinyalir bahwa satu kata mungil ini telah membuat banyak orang untuk menambahkan kalimat ‘mendaki gunung’ dalam daftar perjalanan mereka. Hal ini dilakukan ada yang memang dikarenakan hobi, ingin jalan-jalan, berolahraga, uji kekuatan, atau sekedar membuktikan perkataan orang yang pernah naik gunung bahwa ‘gunung itu keren lho,asik’. Beragam alasan naik gunung pun bermunculan yang berbanding lurus dengan melambungnya pesona gunung itu sendiri.
Jika kita perhatikan dengan seksama, pada dasarnya gunung merupakan miniatur kehidupan. Di sana akan kita temukan sebuah masa dimana segala sesuatu harus dimulai dengan niat yang kuat untuk mencapai sebuah tujuan. Namun ternyata niat saja tidak cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Secara sadar atau tidak, kita akan dihadapkan pada pos jaga untuk lebih mengkristalkan niat kita dalam secarik kertas untuk mencapai puncak tujuan.
Setelah niat benar-benar bulat, baru kita bisa menapaki lika-liku perjalanan untuk mencapai puncak. Terkadang kita disuguhkan dengan jalan yang landai dan mudah dilalui, namun tidak jarang kita akan menemui bebatuan yang terjal hingga kita harus merangkak untuk melaluinya, atau rintangan berupa jalan setapak yang licin dan memiliki kemungkinan tergelincir sangat besar jika tidak berhati-hati. Tidak berhenti sampai disitu, setiap gunung tidak merelakan begitu saja puncaknya untuk dinikmati oleh para pendaki. Selalu tersimpan ‘penjaga-penjaga’ yang berbeda untuk setiap keindahan yang akan disuguhkan dari puncak gunung. Semakin indah suguhan, maka akan semakin sulit ‘penjaga’ yang tersedia itu untuk dilalui.
Puncak hanya disuguhkan kepada orang-orang yang memang pantas untuk menginjaknya, pantas untuk mendudukinya, dan pantas untuk menikmatinya, setelah apa yang mereka usahakan dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga. Tidak akan diperkenankan mencapai puncak bagi mereka yang jago mengeluh, tidak serius dalam meraihnya, dan tidak menghormati perjalanannya.
Sama halnya dengan sebuah kehidupan. Tujuan yang kita inginkan sekecil apapun harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, walau terkadang kita harus mengahadapi permasalahn yang bahkan menyuguhkan persimpangan antara putus asa atau melanjutkan usaha. Atau mendapatkan situasi dimana kita harus menggapai tangan orang lain untuk sekedar melanjutkan selangkah kaki kita dan mengulurkan tangan kita untuk menjaga orang lain agar tidak terhempas jatuh.
Semua perjuangan yang telah kita lakukan akan terbayar semua ketika kita telah menapakkan kaki kita di puncak perjalanan. Dimana secara tidak sadar seonggok daging ini akan mengingat betapa tidak berdayanya ia dihadapan sang pencipta. Ia akan mengetahui bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mungil dibandingkan dengan kuasa Tuhan. Sangat sombong kiranya ketika seorang manusia menganggap dirinya mampu melakukan semua hal tanpa bantuan orang lain, bahkan tanpa bantuan Tuhan.
Tuhan – itulah yang akan muncul di benak para pendaki seketika mereka mencapai puncak tujuan setelah bermandi peluh menapaki prosesnya.
Tidakkah kita perhatikan bagaimana sebuah penciptaan dilakukan, dengan langit yang menjulang tanpa tiang, kokohnya gunung yang berdiri menantang, daratan yang nyaman dipijaki, dan luasnya laut sejauh mata memandang? Ya, kasta nyata yang membedakan antara pencipta dan karya cipta. Sudah semestinya seorang manusia membuang bahkan menghilangkan jauh-jauh rasa congkaknya ketika berjalan di muka bumi ini. Tanah yang disediakan secara cuma-cuma oleh sang pencipta untuk seluruh makhluknya. Hal tersebut sudah sepantasnya bisa meningkatkan rasa syukur dan kerendahan kita terhadap hidup dan kehidupan terutama sang pembuat skenario kehidupan.

Wednesday, June 17, 2015

Buah Karbitan

Jangankan penciptaan manusia, allah mematangkan buah pun bertahap.

Kawan, taukah bahwa kerja hormon itu bergantian?
Ya, Allah mengalirkan hormon sitokinin terlebih dahulu ke buah muda untuk pertumbuhan, setelah cukup terbentuk buah muda, lalu Allah menggantikan peran sitokinin ini dengan akumulasi gas etilen di buah tua untuk menginduksi pemasakan bahkan bisa sampai kelewat masak.

Hasil dari kerja bertahap ini lah yang memiliki rasa manis dan lebih bernilai ekonomis. Ya, lebih manis dan lebih mahal. Sekali lagi, lebih manis dan lebih mahal.

Bandingkan dengan buah-buah karbitan yang sengaja dicabut dan ‘dipaksa’ masak sebelum waktunya. Hasilnya? Ah, meskipun manis dan walaupun punya harga, tetap saja tidak bisa menandingi kualitas buah yang masak pohon.

Entah bagi beberapa orang mungkin bisa mendulang keuntungan dengan mengisi kekosongan keranjang buah yang harusnya terisi dengan buah-buah segar yang memang pantas diletakkan di tempat istimewa itu atau memang mereka tidak sabar untuk menunggu buah-buah belia untuk masak walaupun secara visual sudah waktunya untuk dikonsumsi.

Ah, semua itu keniscayaan yang berujung pada meluapnya stok buah karbitan yang hanya merusak keindahan keranjang istimewa itu, atau mungkin semua hanya pilihan pahit ketika buah masak pohon itu tak lagi tersedia dengan stok yang dibutuhkan


Entahlah.....