
Di awal tahun 2012 ini, harusnya menjadi sebuah momentum perubahan bagi bangsa Indonesia untuk bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, dan mulai menjauh dari label Negara berkembang.
Momentum perubahan ini harus dimulai dari menangani masalah yang telah mengakar dan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki negeri ini. Seperti yang telah dirintis oleh salah satu walikota di Indonesia yang mulai gencar memakai dan memasarkan produk hasil karya anak bangsa, yaitu mobil esemka. Hal ini perlu dilakukan guna menaikkan derajat dan mempublikasikan bahwa karya anak bangsa juga layak dan mampu bersaing dengan produk luar. Meskipun dalam perjalanannya masih banyak yang menyoalkan perihal uji remisi dan plagiatisme terhadap model luar.
Terlepas dari kontroversi yang timbul itu, baiknya hal ini menjadi titik balik Indonesia untuk lebih maju dalam bidang teknologi dan ekonomi, karena tidak menutup kemungkinan jika mobil ini akan diproduksi masal. Jika ini terwujud, indonesia tentunya tidak lagi menjadi pengimpor setia mobil-mobil buatan luar. Sehingga semboyan “cintailah produk Indonesia” bukan lagi sebuah slogan yang kerap kali terdengar di telinga kita.
Namun kenyataan yang perlu dipertanyakan adalah, apakah semua pejabat dan termasuk kita mau mengikuti jejak yang di lakukan walikota solo dalam memakai mobil esemka menjadi mobil dinas yang merupakan salah satu pengimplementasian terhadap cinta produk dalam negeri, ataukah tetap mempertahankan gengsi kita dengan memakai mobil mewah buatan luar sembari menunjukkan kekayaan pribadi dengan alasan mobil dalam negeri belum layak guna karena belum lolos uji kelayakan.
Akar permasalahan ketidakpercayaan ini sebenarnya terletak pada rendahnya kualitas karya yang melekat pada minimnya sumberdaya manusia yang ada. Sehingga langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan sumber daya berupa tenaga ahli untuk mencetak generasi yang berkompeten dalam bidangya. Sumber daya pokok dan mutlak ada yaitu guru yang berkualitas. Karena guru merupakan tonggak pencerdasan dan kesiapan anak bangsa dalam menyongsong masa depan termasuk penciptaan karya-karya yang berkualitas. Maka baiknya kita menjadikan finlandia sebagai cermin pendidikan karena negara ini telah diakui dunia sebagai negara dengan kualitas pendidikan nomor 1 di dunia.
Pada prosesnya, finlandia lebih menekankan aspek kualitas tenaga pengajar dan menuntut guru untuk terus belajar, sehingga ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dalam ruang lingkup bidangnya saja. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi Indonesia yang menyediakan tenaga pengajar seadanya saja dan terdapat kesenjangan kualitas antara guru di daerah kota besar dengan daerah pelosok, sehingga hasil dalam proses belajar mengajar kurang maksimal dan tidak merata. Sehingga kualitas hasil pendidikan tidak masksimal. Jika hal ini terus berlanjut maka tidak menutup kemungkinan kualitas pendidikan kita akan sama dari tahun ke tahun. Dan mimpi memiliki tenaga ahli yang berkompeten dalam bidangnya dengan hasil karya yang optimal akan sulit untuk diwujudkan.
Jadi, mau tidak mau pemerintah dan segenap masyarakat harus bekerjasama dalam upaya menyukseskan pendidikan bangsa, jika ini tercapai maka kualitas anak bangsa akan meningkat dan mampu dibebani tugas untuk menciptakan karya yang berkualitas dan mampu bersaing dengan produk luar sehingga semboyan cintailah produk dalam negeri lebih rasional jika diterapkan. Dan efek jangka panjang dari keberhasilan ini yaitu semakin besarnya peluang Indonesia dalam menanggalkan predikat negara berkembang menuju negara maju.